Tampilkan postingan dengan label HL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HL. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Agustus 2015

PDDIKTI-Feeder, Jantungnya Perguruan Tinggi

Serius tapi santi, saat Sugiyamto memberikan materi Feeder PDDIKTI di Gedung Pascasarjana UPGRIS (Senin, 3/8/2015)
Lengkap sudah perguruan tinggi swasta (PTS) yang ada di wilayah Kopertis Wilayah 6 mengikuti kegiatan Workshop Aplikasi Pangkalan Data Pendidikan Tinggi Feeder (PD-DIKTI Feeder) yang dilaksanakan di Gedung Pascasarjana Lt. V Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) yang dilaksanakan mulai tanggal 28 Juli s/d 4 Agustus 2015.

Workshop dilaksanakan secara marathon yang dibagi menjadi 3 Rayon. Dimulai Rayon III (wilayah Purwokerto dan sekitarnya) dilaksanakan tanggal 28 s/d 29 Juli 2015, Rayon II (Wilayah Surakarta dan sekitarnya) pada tanggal 30 s/d 31 Juli 2015, sedangkan Rayon I (wilayah Semarang dan sekitarnya) pada tanggal 3 s/d 4 Agustus 2015.

Acara yang diselenggarakan Kopertis 6 ini untuk meningkatkan pemahaman peserta (operator PDDIKTI Perguruan Tinggi-red) sekaligus memaparkan penjelasan secara teknis PDDIKTI.

PDDIKTI merupakan jantung-nya perguruan tinggi“, sambut Dra.Sri Suciati, M.Hum selaku tuan rumah, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Rektor I UPGRIS. Lebih jauh, Suciati memberikan contoh pentingnya PDDIKTI bagi sivitas akademika, bahwa semester kemarin mahasiswanya tidak dapat melakukan pendaftaran SM3T. Hal ini disebabkan ada beberapa permasalahan yang ada di PDDIKTI.

Sedangkan Prawoto, S.E., M.Si.  menjelaskan bahwa PDDIKTI Feeder merupakan aplikasi yang digunakan sebagai pengganti layar biru. “Seharusnya kegiatan workshop dilaksanakan di Kantor Kopertis Wilayah VI, namun karena ada kegiatan pada waktu yang bersamaan sehingga acara (workshop-red) dilaksanakan di UPGRIS”, jelasnya.

Agung Purwanto, S.H. mewakili Koordinator Kopertis Wilayah VI, pada sesi Rayon I menandaskan bahwa PDDIKTI digunakan sebagai dasar untuk sistem penjaminan mutu secara nasional. PDDIKTI dapat berjalan baik, apabila pihak perguruan tinggi, lebih khusus kepada pihak pimpinan PT ikut serta dalam mendukung PDDIKTI, baik itu berupa komitmen, pendanaan, pengembangan SDM maupun pengembangan infrastruktur yang diperlukan, jelas Agung yang juga menjabat Kabid Akademik, Kemahasiswaan dan Kelembagaan Kopertis Wilayah VI.

Tampak hadir Adityo Wibowo, S.T., M.Eng. (dari Unisulla Semarang), Sugiyamto, M.Kom. (dari Unisbank Semarang), dan Hidayat Prihantono (dari STIE Atma Bakti Surakarta) sebagai narasumber dalam workshop ini.

Apabila sesuai dengan jadwal, workshop akan ditutup besok (Selasa, 4/8/2015) pada pukul 12.00 WIB oleh Sekretaris Pelaksana Kopertis Wilayah VI (Sri Sujianti, S.H.).

PS: Download Materi Workshop PDDIKTI Feeder 2015

Kamis, 09 Juli 2015

Orang tua, Perlu Mengenali Bakat Sang Anak

Saat melihat acara reality show di salah satu stasiun televisi, tampil anak-anak dengan berbagai bakat yang dimiliki.

Tak ketinggalan, orang tua sang anak pun sesekali tersorot di layar televisi tampak serius memberikan dukungan kepada sang anak, meskipun duduknya bersama-sama dengan penonton lainnya. Tak jarang orangtua si anak justru kena kelakuan jahil dari pembawa acara.

Yang menarik adalah, saat salah satu orang tua — sebut saja Ima (bukan nama sebenarnya) — diminta untuk tampil ke depan menceritakan tentang bakat anaknya. Terungkap dari penuturannya, bakat sang anak sudah terlihat sejak berumur tiga tahun. Diperhatikan semakin lama, bakat sang anak semakin terlihat nyata.

Meskipun salah tingkah di atas panggung, tentunya karena masih “dijahili”. Ima berpesan kepada orang tua yang ada di Indonesia agar orang tua seyogyanya –dan bahkan harus– mampu melihat bakat anak-anaknya. Serta mampu mengikuti perkembangan dan pertumbuhan sang anak sedetil mungkin. Tak lain, agar orang tua mampu memberikan dorongan bagi perkembangan sang buah hati.

Jadikan Prioritas

Benar memang, perhatian kepada anak harus menjadi prioritas orangtua dalam mengasuh anak. Sebelum penyesalan datang di kemudian hari. Disaat sang anak sudah tumbuh menjadi dewasa, sedangkan orangtua merasa masih belum mampu memberikan dan melakukan banyak hal bersama anaknya.

"Tidak terasa, sekarang engkau sudah besar, Nak!"

Tak jarang, perasaan tersebut muncul dalam benak orang tua. Waktu berlalu begitu cepat. Terasa baru kemarin engkau aku timang-timang, aku gendong, namun sekarang, engkau telah mampu melampaui batas penalaran dan jangkauanku.

Jangan sampai kita sebagai orang tua menyesal dikemudian hari. Meskipun banyak yang berfikir memberikan perhatian kepada anak, salah satunya bisa dengan cara mencukupi kebutuhan fisik sang anak. Meskipun hal itu tidak sepenuhnya salah, dan tidak juga semuanya benar.

Anak lebih menyukai perhatian dan kebersamaan dibanding dengan materi yang berlimpah. Karena materi bukanlah hal yang mereka mengerti untuk saat ini. Mereka lebih mengerti tentang bagaimana rasa kebersamaan dan perhatian dari orang-orang di sekitarnya, terlebih dari orang tuanya.

Luang Waktu Bersama

Meskipun zaman sekarang memang berbeda dengan tempo doeloe. Sekarang, waktu bersama anak relatif berkurang karena memang tuntutan pekerjaan, dimana hasilnya nanti akan kembali lagi kepada sang anak.

Luangkan waktu bersama, jalani kebersamaan. (Foto: dokpri eMJe)

Namun, sesibuk apapun, alangkah baiknya orangtua menyempatkan diri untuk memberikan perhatian kepada sang anak. Agar ikatan emosional mampu terpupuk. Tak salah kiranya ungkapan berikut, “meskipun jauh dimata, namun tetap dekat di hati”.

Materi mampu memisahkan, bahkan mampu melunturkan ikatan emosional. Namun sebaliknya, ikatan emosional tidak akan bisa memisahkan materi. Yang ada justru saling memperkuat. Bahkan ada pepatah, “makan tidak makan, yang penting kumpul”. (Masluh Jamil)

Kamis, 22 Mei 2014

Menelisik Berubahnya tokobagus.com menjadi olx.co.id dari Perspektif Negatif

Apalah arti sebuah nama, itulah kiranya yang terjadi pada tokobagus.com yang masyarakat umum sering menyingkatnya dengan toba. Salah satu situs toko jual beli terbesar di Indonesia yang kini berubah menjadi olx.co.id sejak tanggal 20 Mei 2014.

Situs online yang berdiri sejak 9 Juni 2005 ini didirikan oleh 2 orang pemuda asal Belanda, Arnold Sebastian Egg dan Remco Lupker.

Keputusan yang riskan sebenarnya, untuk merubah nama. Belum lagi jika brandingnya sudah terbentuk di berbagai kalangan masyarakat.

Ditilik dari dunia marketing, walaupun isi sama atau bahkan lebih baik, tetapi apabila kemasan, warna, bahkan type font berbeda, banyak konsumen mempertanyakan. Ini produk asli apa aspal? Kalau asli KW berapa? Kalau aspal, kog harganya sama dengan aslinya.

Nah lo... bagaimana pucuk pimpinan menelaah respon konsumennya. Bagaimana beratnya sales marketing memberikan penjelasan kepada konsumennya. Lantas, bagaimana perasaan Arnold Sebastian Egg dan Remco Lupker pendiri tokobagus.com dan team yang selama ini melahirkan dan membesarkannya? Apabila pertanyaan tersebut diajukan, jawabnya pun akan datar-datar saja, normatif!
Tetapi dapat diyakini, di relung hati mereka yang paling dalam sedalam-dalamnya lautan yang paling dalam di dunia ini, ada perasaan kecewa meskipun hanya setitik embun.
Dan yang lebih parah lagi, besarnya dana yang dihabiskan untuk melakukan re-edukasi kepada konsumen tidak sebanding dengan benefit yang akan didapat dari perubahan nama. Berapa besar dana yang sudah dikeluarkan dahulunya untuk pengenalan tokobagus.com ke masyarakat melalui media cetak maupun elektronik. Dana yang telah dipakai pun menguap dengan sia-sia seiring berubahnya menjadi nama olx.co.id.

Saya yakin, direksi dan investor olx.co.id d/h tokobagus.com sudah memikirkan matang-matang dampak dari perubahan tersebut. Akan tetapi, masih akan diperlukan waktu lama untuk melakukan edukasi ke masyarakat. Perlu waktu untuk melakukan brainstrome ke benak alam bawah sadar masyarakat, khususnya masyarakat yang baru-baru kenal tokobagus.com dan kenal internet.

Saya pribadi kurang faham. Mengapa kalau hanya masalah besarnya prosentase saham harus merubah image yang selama ini sudah terbangun dan terbenam di alam bawah sadar masyarakat.

Seperti pepatah lama yang beredar di kalangan masyarakat bawah, "ganti mentri, ganti aturan" :D. Mengapa tidak dibiarkan saja masih tokobagus.com walaupun secara kepemilikan adalah olx.co.id

Leonita Julian, seorang pakar kehumasan di Indonesia bercanda "Nama Tokobagus sudah nempel. OLX kalau dieja O eleks. Kebalikannya Tokobagus dong".

Namun, inilah saat yang tepat bagi rival olx.co.id d/h tokobagus.com untuk meningkatkan performa kinerjanya. Bahwa persaingan itu pasti dan harga mati.

By the way, kita harus siap dengan selalu perubahan. Selalu memandang dari 2 sisi, pasti ada sisi positif di balik perubahan nama ini. Berat memang dikala masa-masa transisi. Banyak pujian dan cacian yang diterima. Semoga saja, keputusan yang telah diambil menjadikan olx.co.id semakin bagus sebagus nama pendahulunya.